Lewati ke konten utama

Udinus Ciptakan Alat Perangkap Hama Berbasis Sensor untuk Bantu Petani Kurangi Pestisida

Udinus Ciptakan Alat Perangkap Hama Berbasis Sensor untuk Bantu Petani Kurangi Pestisida

Serangan hama penggorok daun selama ini menjadi momok bagi petani hortikultura di Indonesia. Serangan hama tersebut berpotensi menurunkan produktivitas lahan hingga 30–50 persen sekaligus membengkakkan biaya operasional usaha tani hingga 30 persen akibat ketergantungan pada pestisida kimia.

Menjawab persoalan tersebut, Tim Peneliti Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) mengembangkan alat “Perangkap Hama Penggorok Daun Berbasis Sensor Gerak dan Mekanik Vakum”. Alat ini didesain untuk mendeteksi sekaligus menangkap hama secara otomatis tanpa pestisida kimia.

Prof. Dr. Rindra Yusianto, S.Kom., M.T. selaku Ketua Tim Peneliti menyebutkan bahwa ketergantungan petani pada bahan kimia tersebut menjadi akar masalah yang mendorong pengembangan alat ini.

“Selama ini, lebih dari 70 persen petani kita masih sangat bergantung pada pestisida kimia sebagai satu-satunya metode utama pengendalian hama. Akibatnya, biaya produksi melonjak tinggi dan risiko gangguan kesehatan petani meningkat drastis. Inovasi yang kami kembangkan ini hadir sebagai jawaban nyata untuk memutus rantai ketergantungan tersebut,” tegas Prof. Rindra.

Alat tersebut dirancang untuk mengendalikan Liriomyza chinensis, hama yang menyerang berbagai tanaman hortikultura seperti kentang, bawang merah, bawang putih, tomat, hingga cabai. Perangkat ini bekerja dengan memadukan sensor gerak dan mekanik vakum.

Saat hama terdeteksi, sistem secara otomatis mengaktifkan penyedot untuk menangkap dan memasukkannya ke dalam kotak penampung. Prof. Rindra mengatakan bahwa alat tersebut dikembangkan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih praktis bagi petani.

“Melalui pendekatan mekanik terintegrasi, alat ini mampu menekan populasi hama penggorok daun hingga lebih dari 75 persen secara otomatis, presisi, dan aman bagi lingkungan,” ujar Prof. Rindra. Penerapan inovasi ramah lingkungan ini sekaligus mendukung terwujudnya sustainable agriculture di sektor hortikultura nasional.

Hama Terdeteksi, Penyedot Langsung Aktif

Alat ini dilengkapi empat sensor gerak ultrasonik yang dapat mendeteksi hama pada jarak 5–30 sentimeter. Perangkat ini juga menggunakan panel surya berukuran 30 × 30 sentimeter serta baterai isi ulang 12 volt DC, sehingga dapat digunakan di lahan terbuka tanpa bergantung pada jaringan listrik. Langkah ini sekaligus mengadopsi prinsip clean technology dalam efisiensi energi di lahan pertanian.

“Untuk menarik hama mendekat, alat ini dilengkapi lampu LED empat warna, yakni putih, kuning, biru, dan oranye, yang disukai oleh hama penggorok daun. Begitu hama terbang mendekati corong penyedot karena tertarik kilau cahaya LED tersebut, sensor ultrasonik akan mendeteksi keberadaannya dan secara otomatis mengaktifkan unit penyedot,” jelas Prof. Rindra.

Unit penyedot digerakkan oleh dinamo motor 12 volt DC berkecepatan putar lebih dari 1.000 rpm, dengan baling-baling kipas aluminium presisi yang menghasilkan kecepatan aliran udara hingga melebihi 2,5 meter per detik. Tekanan vakum yang tercipta menyedot hama masuk melalui pipa fleksibel dan menjebaknya di dalam kotak penampung berkapasitas lima liter.

“Berdasarkan hasil pengujian, tingkat kebergunaan alat mencapai 89 persen. Penggunaannya juga diperkirakan dapat menekan biaya pengendalian hama sekitar 20 hingga 40 persen dalam satu musim tanam. Petani dapat mengoperasikan alat ini dengan mudah tanpa memerlukan keahlian teknis yang rumit,” lanjut Prof. Rindra.

Kesiapan Teknologi dan Potensi Komersialisasi

Pengembangan alat ini telah terdaftar dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Riset ini juga merupakan luaran pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Skema Bantuan Biaya Luaran Prototipe Tahun Anggaran 2026.

Berdasarkan luas tanam hortikultura di Jawa Tengah yang diperkirakan mencapai 80.000 hingga 120.000 hektare, Prof. Rindra mengungkapkan bahwa alat ini memiliki potensi pasar regional dengan kebutuhan minimal 36.000 unit alat. Secara nasional, dengan luas tanam mencapai 1,2 juta hektare, potensi pasar diperkirakan melampaui 240.000 unit.

Pengembangan alat kini memasuki tahap peningkatan kesiapan teknologi. Prototipe alat telah berhasil ditingkatkan dari Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 5 menuju TKT 6, yang ditandai dengan demonstrasi prototipe terintegrasi penuh dalam lingkungan operasional pertanian yang relevan.

“Target jangka pendek kami adalah melakukan pra-sertifikasi alat dan uji keandalan lanjutan menuju TKT 7 dan TKT 8 untuk produksi komersial terbatas. Pada tahap awal, kami menargetkan adopsi sekitar satu persen dari pasar potensial nasional atau sekitar 2.400 unit alat melalui kerja sama dengan kelompok tani percontohan, dinas pertanian daerah, serta UMKM manufaktur lokal,” pungkasnya. (Humas Udinus/Penulis: Nisfah. Editor: Haris. Foto: Dok. Tim Peneliti)

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa inovasi utama yang diciptakan oleh Tim Peneliti Udinus untuk petani hortikultura?
Tim Udinus mengembangkan perangkap hama mekanik berbasis sensor gerak ultrasonik dan sistem penyedot vakum otomatis bertenaga surya untuk membasmi hama penggorok daun (Liriomyza chinensis) tanpa pestisida kimia.

Bagaimana cara kerja teknis alat ini dalam membasmi hama di lapangan?
Lampu LED empat warna (putih, kuning, biru, oranye) memancing hama mendekat. Ketika hama terdeteksi sensor ultrasonik dalam jarak 5–30 cm, dinamo motor otomatis menyalakan kipas vakum berkecepatan tinggi untuk menyedot hama ke dalam penampung 5 liter.

Apa saja keunggulan ekonomis dan teknis alat ini bagi para petani?
Alat ini mampu menekan populasi hama hingga 75%, menghemat biaya pengendalian hama 20–40% per musim tanam, memiliki tingkat kebergunaan (usability) 89%, serta beroperasi mandiri mengandalkan panel surya.

Bagaimana status kesiapan teknologi dan rencana komersialisasi alat tersebut saat ini?
Riset pendanaan Kemdiktisaintek 2026 yang telah terdaftar HKI ini sudah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 6. Tahap selanjutnya adalah menuju TKT 7–8 untuk uji keandalan dan produksi komersial terbatas sebanyak 2.400 unit.

Berita Terbaru